“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33) * Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(QS Yusuf: 108)

Cari Blog Ini

Selasa, 03 Januari 2023

Benarkah Pernyataan: Yang Penting Niatnya Baik?

Pernahkan kamu mendengar orang berkata begitu waktu ditegur waktu melakukan amalan yang keliru lalu berkilah: "yang penting kan niatnya baik".

Sebelum kita jawab, penting untuk mengetahui, apa sih sebenarnya niat itu? Niat, secara ringkas maknanya keinginan untuk mengerjakan sesuatu, baik sesuatu itu baik maupun buruk.
Nah, niat ini sangat penting dalam ibadah. Bahkan, ibadah menjadi tidak bernilai apa-apa kalau salah niat lho. Niat haruslah ada sebelum mengerjakan suatu ibadah.
Terkait niat ini ada beberapa hal yang mesti kita ketahui.

Pertama: Niat membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Contoh konkritnya, shalat misalnya. Ketika kita mengerjakan shalat, shalat apa yang kita kerjakan ini, shalat sunnahkah atau shalat wajib. Shalat rawatib ataukah shalat tahiyatul masjid. Semua ini dibedakan dengan niat. Demikian pula ibadah-ibadah yang lain seperti puasa, sedekah, dll. Silahkan di analogikan sendiri ya.

Kedua: Niat membedakan antara adat/kebiasaan dengan ibadah. Misalnya mandi, apakah mandi untuk sekedar membersihkan badan ataukah mandi wajib? Jika mandi untuk membersihkan badan atau biar segar, maka tidak ada nilai ibadahnya. Jika mandi wajib maka dinilai ibadah.
Contoh lain, memakai pakaian menutup aurat. Jika niatnya karena kebiasaan, tidak ada pahalanya. Jika niatnya untuk menutup aurat karena mematuhi perintah Allah dan RasulNya, tentu ini ibadah yang mulia.
Contoh lain, berlapar-lapar. Jika dia niatkan untuk diet, atau karena nggak ada yang dimakan, ini tidak ada nilai ibadahnya. Namun, jika dia niatkan berpuasa, tentu besar pahalanya karena termasuk amal ibadah. Silahkan di analogikan dengan amalan lainnya.

Ketiga: Niat yang benar adalah salah satu syarat diterimanya amal. Maksudnya? Jika melakukan amalan tidak dengan niat yang benar, yaitu ikhlas karena Allah, so pasti sia-sia amalannya. Misalnya biar dilihat orang atau calon mertua. Allah tidak akan menerima amal kecuali yang di dasari niat ikhlas. Pernah baca hadits ini kan:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya untuk Allah dan rasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya mendapatkan sesuai yang diniatkannya" (HR Bukhari dan Muslim)
Nah, hadits di atas ada rumus sekaligus penerapannya. Rumusnya: Seseorang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Contoh aplikasinya adalah dengan hijrah. Hijrah meninggalkan negeri kufur menuju negeri Islam adalah amalan yang utama. Namun jika salah niat, yang didapatkannya pun nol.
Selain niat, syarat diterimanya amal yang kedua adalah mengikuti contoh yang dipraktekkan Nabi shallallahu'alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Keempat: Niat baik tidak serta merta menjadikan amalan yang buruk menjadi baik. Misalnya, mencuri dengan niat untuk disedekahkan. Atau beribadah dengan amalan yang tidak pernah ada contoh dan asalnya dari syariat. Meski niatnya baik untuk beribadah kepada Allah, tapi karena caranya salah, maka niat yang baik tidak bisa menjadikan amalan buruk tersebut menjadi baik. Ini sebagai jawaban dari orang yang mengatakan yang penting niatnya baik.

Kelima: Niat yang ditujukan kepada Allah tidak perlu diucapkan denga lisan. Allah Maha Tahu apa yang ada di hati kita dan apa yang kita niatkan. Ketika kita beribadah, Allah tahu niat dalam hati kita, untuk Allah semata atau untuk selainNya. Allah menilai apa yang ada di dalam hati kita dan akan memberi balasan sesuai niat kita.
Beda halnya dengan niat yang kita tujukan kepada sesama manusia. Ini mesti diucapkan. Misal kita berniat bayar hutang, ketika menyerahkan uang pelunasan mesti kita sampaikan ke orangnya agar dia paham bahwa uang yang kita serahkan untuk bayar hutang, bukan dikasihkan cuma-cuma. Jika kita cuma menyerahkan uang begitu saja kepada orang yang menghutangi kita tentunya dia tidak tahu maksud kita, untuk bayar hutang atau untuk yang lainnya.
Begitu juga dengan seluruh akad-akad lainnya yang berkaitan dengan muamalah kepada sesama manusia mesti ada ijab qabulnya.
Sekian, semoga ada manfaatnya.

Kamis, 01 Desember 2022

AMALAN SAHABAT VS AMALAN KITA


Orang yang mencermati keadaan sahabat Nabi -semoga Allah meridhoi mereka-, dia akan dapati bahwa mereka berada pada puncak kesungguhan dalam beramal dengan dibarengi puncak rasa takut (kepada Allah). Ada pun kita, kita gabungkan antara menyepelekan -bahkan meremehkan- dengan merasa aman (ketika beramal).
Ad Daa' wa Ad Dawaa'  35.

‏ومن تأمل أحوال الصحابة رضي الله عنهم ، وجدهم في غاية العمل مع غاية الخوف ، ونحن جمعنا بين التقصير -بل التفريط- والأمن .
~
الداء والدواء [35]

https://twitter.com/ibn_alqaim/status/1595091218106839041?t=cXlcsSyLEAvFf_jsmbL0ow&s=19

DOA YANG SERING DIBACA NABI shollallohu alaihi wa sallam


Dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu berkata:
Doa yang paling sering dibaca Nabi shollallohu alaihi wa sallam adalah:
اللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار
"Ya Allah Tuhan kami, berikanlah kepada kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka"
(HR Bukhari 6389 dan Muslim 2690)

Kamis, 17 November 2022

PEMILIK NIKMAT YANG SEMPURNA


Imam Ibnu Al Qayyim rahimahulloh berkata :
"Orang yang taat kepada Allah, meski berbantalkan tanah dan mengunyah kerikil namun mereka sejatinya adalah pemilik kenikmatan yang sempurna"
Miftah Daris Sa'adah  1/293
 
‏قال الإمام ابن القيم -رحمه الله- :
"أهلُ طَاعَةِ الله وإنْ تَوسَدوا التُرابَ، ومَضَغُوا الحَصَى؛ فهم أهلُ النِعمةِ المُطلَقة".
📚« مفتاح دار السعادة ١/٢٩٣ »
https://twitter.com/aqwal_ahl_alelm/status/1579168480712347648?s=19

Jumat, 28 Oktober 2022

KONSISTEN DI ATAS SUNNAH


Imam Ahmad bin Hambal rahimahulloh berkata:
"Tidak selayaknya kita mengikuti sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam ketika lapang dan meninggalkannya ketika kondisi sempit"

Thabaqat al Hanabilah Ibnu Abu Ya'la 

‏قال الإمام أحمد بن حنبل: "ليس ينبغي أن نتبع سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم في الرخاء ونتركها في الشدة".
*طبقات الحنابلة لابن أبي يعلى
https://twitter.com/ahmadbinhanbl/status/1579158240658886657?t=MA4Krry6ID4MWRF5x3BsMw&s=19

Selasa, 18 Oktober 2022

BERBAIK SANGKA DAN BERHARAP KEPADA ALLAH


Imam Ibnul Qayyim rahimahulloh berkata: 
"Ketika seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, membagikan harapan kepadaNya dan benar benar bertawakal kepadaNya, sesungguhnya Allah tidak akan mengecewakan harapannya sama sekali"
Madarijus Salikin 1/469. 

‏قال الإمام ابن القيم -رحمه الله تعالى-:
كلما كان العبد حسَن الظن بالله، حسَن الرجاء له،
صادق التوكل عليه، فإن الله لا يُخيّب أمله فيه البتة
📚مدارج السالكين  || 1/469
https://twitter.com/aqwal_ahl_alelm/status/1580144962032652288?t=MpciGDkhD_JU4kmG0nC2JA&s=19

ORANG YANG TERTIPU



Adz Dzahaby rahimahulloh berkata:
"Setiap orang yang tidak pernah khawatir akan masuk neraka maka dia orang yang tertipu, merasa aman dari makar Allah".
Siyar A'lamin Nubala 6/291
 
‏قال الذهبي - رحمه الله :
كل من لم يخش أن يكون في النار
فهو مغرور قد أمِنَ مكر الله به .

- سير أعلام النبلاء  ( ٦/٢٩١) -
https://twitter.com/Alnubala1/status/1572412025438978050?t=W74ByetU3wJzGt9XQDvQ3g&s=19